Jeda

Temaram senjamu mungkin lebih semarak. Siluet punggungmu menjadi lebih menarik. Jeda diantara kita mengucap pisah dengan serak. Rinduku berdiam diri di sudut hati. Hilang. Jeda membawa langkahmu. Hilang. Teduhmu mengelabuiku untuk tinggal. Hadirmu seperti sandiwara di suatu pagi. Haruskah kutulis kembali surat tanpa nama? Haruskah ku sederhanakan rasaku? Jedaku masih berdegup. Langkahnya masih memiliki misteri….

Perkara Rasa

Ia kadang masih menangis, memeluk hatinya yang luka. Ia kadang masih menyebut namanya saat senja jatuh di hangat matanya. Perkara rasa, ia tak bisa menyerah. Baginya mudah melupakan ia yang masih tertunduk. Baginya rindu hanyalah sebuah wacana. Perkara rasa, siapa yang bisa menghalanginya? *021019*

Surat Ketujuh

Masih teruntuk kamu, Seperti biasa, bulan kesembilan adalah bulan tersibuk dari pekerjaan kita. Aku yang begitu kelelahan dengan keteraturan jadwal dan kau kewalahan dengan setumpuk proyek tahunan. Kita saling melupakan. Aku mulai sadar dengan jarak. Entah aku tak lagi menjadikanmu yang utama ketika aku memulai hari. Dan entah kemana perginya rindu itu. Sekali lagi aku…

Teruntuk Kalian

Teruntuk adik, sahabat, kakak, dan kamu. Beberapa diantara kalian sangat tahu apa yang sedang aku alami hampir satu tahun kebelakang. Ujian yang bertubi-tubi membuatku menyerah dan mengakui bahwa batas kemampuanku telah mencapai puncak. Adik, entah seperti apa jika kau tidak hadir menguatkan,menyadarkan, bahkan membuatku menjadi orang yang berharga. Kau tahu bahwa orang yang paling aku…